Pelayanan: Karena Cinta, Bukan Karena Upah

Renungan
Oleh : Pdt. Boydo Rajiv Hutagalung (Pendeta Jemaat, Ketua 3 PHMJ GPIB Marga Mulya)

ilustrasi : whatdoesitmeantoservegod.com

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina. (Kidung Agung 8:7)

Di suatu jemaat GPIB, ada seorang pemuda yang berbakat dalam bermain piano dan keyboard dan terlibat melayani di Bidang Musik Gereja. Setiap kali selesai melaksanakan pelayanan sebagai pemusik ibadah, sesuai dengan kebijakan di jemaat itu, si pemuda diberikan ungkapan kasih dengan jumlah yang tidak terlalu besar. Sudah beberapa kali ia ditawari menjadi pemusik di gereja lain, bahkan disertai iming-iming honor yang cukup besar. Namun karena pemuda ini sangat mengasihi GPIB dan jemaat di mana ia melayani, ia menolak tawaran tersebut. Ia mengatakan bahwa pelayanannya bukan dimotivasi oleh bayaran yang ia terima, melainkan karena ia ingin mempersembahkan talentanya untuk kemuliaan Tuhan. Ia pun memilih fokus mengembangkan pelayanan Musik Gereja di jemaat GPIB tersebut.

Dalam Kidung Agung 8:5-7 penulis Kitab Kidung Agung memetik hikmah dari “kekuatan cinta” (ay.6). Menurut perenungannya, orang yang sungguh-sungguh mencintai pasti akan memberikan yang terbaik dari dirinya untuk yang ia cintai. Meskipun kondisi yang dihadapi sulit, serba terbatas, namun kasih sayangnya tidak terpadamkan (Ay.7a). Bahkan meski ada tawaran lain yang jauh lebih menarik dan menguntungkan baginya, namun ia tidak terpengaruh, sebab cintanya tidak terbeli (Ay.7b). Ia tetap bertahan dan memperjuangkan yang ia cintai.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, apabila kita mau menanggapi panggilan Tuhan untuk terlibat dalam suatu pelayanan tertentu, tanamkan dalam diri bahwa kita melayani karena cinta kepada Tuhan bukan karena upah. Apabila di lingkungan pelayanan di mana kita melayani barang kali ada banyak kelemahan ataupun hal-hal yang tidak memuaskan bagi kita, janganlah mengeluh secara berlebihan lalu membuat keruh suasana di lingkungan pelayanan itu. Ketidakpuasan terhadap situasi pelayanan yang ada jangan membuat cinta kita kepada Tuhan menjadi terkikis. Situasi yang tidak ideal dalam lingkup pelayanan jangan pula membuat kita apatis, apalagi meninggalkannya demi mencari kesenangan sendiri ataupun keuntungan material. Ingatlah bahwa seharusnya pelayanan yang berangkat dari cinta akan terus berjuang dan senantiasa berupaya memberi yang terbaik yang ia mampu. Kiranya Roh Kudus menyalakan cinta dalam batin para pelayan Tuhan agar aku terus berjuang memberi yang terbaik melalui pelayanan nan tulus. Amin! – []brh


“Jiwa yang penuh cinta, tak akan pernah lelah [melayani Tuhan]”
~ Lirik Nyanyian Taize ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *