Ziarah Batin

Renungan TPG
Cuplikan Khotbah Pdt.(Em) Emanuel Gerrit Singgih pada Ibadah Minggu ke 5 PraPaskah
di GPIB Marga Mulya Yogyakarta – Pos Ibadah Yogyakarta Barat
Oleh: Pnt. Evi Sapakoly

Minggu, 25 Februari 2024 bertepatan dengan Hari Minggu ke 5 Pra Paskah, kami mendapat tugas melayani bersama Pdt. (Em) Emanuel Gerrit Singgih di GPIB Marga Mulya Yogyakarta – Pos Ibadah Yogyakarta Barat, dusun Janten desa Ngestiharjo Kapenawon Kasihan Kabupaten Bantul.

Menyitir dari Kitab Mazmur 133 : 1-3 yang menceritakan tentang Nyanyian Ziarah Daud, Pdt. Gerrit mengawali khotbahnya dengan kalimat bertanya, apa itu ziarah? Kemudian beliau menjelaskan hikmah dari ziarah. Bangsa Israel melakukan ziarah yakni perjalanan ke Yerusalem sambil menyanyikan Mazmur ziarah yang terdiri dari 15 nyanyian dimulai dari Mazmur 120 hingga Mazmur 134.

Mazmur 133 bacaan minggu ke 5 Pra Paskah merupakan nyanyian persiapan sebelum masuk ke Bait Allah untuk menerima berkat Tuhan. Bagi kita sekarang, yang terpenting adalah melakukan ziarah batin, dimana kita perlu menginstropeksi diri terkait ziarah batin itu dengan melihat dari mana kita datang, sekarang kita ada di mana dan kemana kita akan pergi.

Seruan kerukunan merupakan harapan atau cita cita yang ideal. “Seperti minyak yang baik … dan seperti embun gunung Hermon ..” .ini merupakan gambaran perjalanan ziarah yang menyegarkan. Orang yang berziarah mungkin orang biasa saja, namun dalam setiap perjalanan ziarah seseorang harus tetap ingat perjalanannya, dari mana ia datang, sekarang ia ada dimana dan kemana ia akan pergi. Harus Kembali rukun satu dengan yang lain untuk membawa kita menerima berkat Tuhan.

Rukun selalu berkaitan dengan ketertiban dan keberaturan. Pdt Gerrit menunjukkan 1 Petrus 3 sebagai syarat atau kriteria hidup rukun, yakni seiya sekata, seperasaan, mengasihi saudara saudara, penyayang dan rendah hati. Jadi hidup rukun itu ada kebebasan, ada kebenaran dan ada keadilan. Jemaat harus hidup rukun dengan mengedepankan kebebasan, kebenaran dan keadilan. Karena gereja kita bukanlah sekadar “gereja peraturan atau gereja larangan” melainkan gereja kasih sayang. Untuk mewujudkan ini maka kita perlu melakukan ziarah batin.

“Selamat melakukan perjalanan ziarah”, demikian Pdt Gerrit mengakhiri khotbahnya. []es/brh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *