Dari UIN ke Gereja: Merawat Dialog Lintas Iman di Hari Kenaikan Tuhan Yesus

Germasa Lintas IMAN
Pdt. Boydo Rajiv Hutagalung (Pendeta Jemaat GPIB Marga Mulya)

  • Kamis, 14 Mei 2026

  • Lima orang mahasiswa Fakultas Dakwah – Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam dari UIN Sunan Kalijaga turut menghadiri Ibadah Hari Kenaikan Yesus Kristus di GPIB Marga Mulya. Beberapa hari sebelumnya, mereka meminta izin kepada pihak Gereja untuk melakukan pengamatan tentang peribadahan Kristen khususnya di Hari Raya Kenaikan Yesus ke Sorga.


    Hadir di Ibadah jam 09.00, kelima mahasiswa duduk di bangku sisi selatan atau bagian depan. Mereka mengambil beberapa dokumentasi dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bahkan duduk-berdirinya jemaat pun mereka ikuti, meskipun sebenarnya tidak ada keharusan bagi yang beragama non-Kristen. Namun kelima mahasiswa tersebut berkenan melakukannya sebagai wujud respek kami pada kegiatan umat Kristen.

    Pemahaman GPIB Mengenai Pekabaran Injil
    Bertepatan sekali tema pemberitaan firman saat itu berkaitan dengan “tugas umat Kristen dalam memberitakan kabar baik (bersaksi), sebagai tindak lanjut iman terhadap Yesus yang naik ke sorga”. Pelayan Firman menjelaskan tentang bagaimana pemahaman GPIB tentang tugas Misi, yang bukan “misi Kristenisasi” melainkan misi presensia, yang orientasinya pada Kerajaan Allah atau nilai-nilai Syalom (damai sejahtera). Ditegaskan bahwa bagi umat Kristen, menyampaikan kebenaran yang diimani di dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamat, adalah bagian yang tak terpisahkan dalam pekabaran Injil. Namun demikian, pemahaman mengabarkan Injil yang dihayati oleh warga GPIB tidak lagi dalam orientasi melakukan proselitisasi (seperti paradigma lama yang memang pernah ada dalam sejarah misi gereja). Pemahaman warga GPIB saat ini adalah mewartakan keyakinan iman kepada sesama, tanpa merendahkan keyakinan iman orang lain. Lebih jauh pemahaman pekabaran injil di masa kini, bagi GPIB adalah tentang mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah, yaitu : kasih, kebenaran, keadilan, dan keutuhan ciptaan.

    Pelayan Firman menyampaikan pesan kepada kelima mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, yang ketepatan berasal dari Fakultas “Dakwah” (suatu istilah yang dapat dipahami sebagai terkait “misi” atau penyiaran agama Islam), bahwasanya tidak semua kelompok Kekristenan memahami Pekabaran Injil sebagai Kristenisasi. Ada keragaman interpretasi mengenai topik misiologi di sepanjang era Kekristenan dan di berbagai denominasi gereja. Karena itu, jangan sampai digeneralisir begitu saja antara satu kelompok dengan yang lainnya.

    Memaknai Kenaikan Yesus Ke Sorga dan Relasi Antar Umat Beragama
    Setelah Ibadah selesai, kelima mahasiswa UIN Sunan Kalijaga tersebut melakukan wawancara kepada Pelayan Firman dalam Ibadah tersebut. Mereka menanyakan beberapa hal tentang makna penting apa yang ingin disampaikan dan dihayati oleh umat serta apa harapan implikasi Hari Kenaikan Yesus ke Sorga bagi relasi antar umat beragama. Pelayan Firman menyampaikan bahwa meski berbeda secara teologis, namun peringatan atau hari raya Kenaikan Yesus ke Sorga memiliki kemiripan spirit atau semangat kudus dengan perayaan dalam Islam, yaitu Isra Miraj.

    Meski berbeda secara teologis, namun peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga memiliki kemiripan spirit atau semangat kudus dengan perayaan Isra Miraj dalam tradisi Islam. Keduanya sama-sama berbicara tentang perjalanan menuju kemuliaan Ilahi, kedekatan dengan Tuhan, serta peneguhan iman umat manusia. Dalam Kenaikan Yesus, umat Kristen merenungkan Kristus yang dimuliakan dan tetap menyertai umat-Nya. Sedangkan dalam Isra Miraj, umat Islam mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat dan mengalami perjumpaan spiritual yang mendalam dengan Allah.


    Keduanya hari raya tersebut mengandung pesan bahwa hidup manusia tidak berhenti pada realitas duniawi semata. Ada panggilan untuk mengarahkan hati kepada Yang Mahatinggi, hidup dalam ketaatan, pengharapan, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Karena itu, baik Kenaikan Yesus maupun Isra Miraj sama-sama mengajak umat beriman untuk meneguhkan iman, memperdalam spiritualitas, serta menghadirkan damai dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Kesadaran akan kemiripan nilai spiritual ini seharusnya mendorong umat beragama untuk tidak saling curiga atau memusuhi, melainkan saling menghormati dalam kasih dan kemanusiaan. Ketika umat Kristen merayakan Kenaikan Tuhan dan umat Islam memperingati Isra Miraj, keduanya sama-sama diajak mengarahkan hati kepada Tuhan dan menghadirkan hidup yang lebih baik bagi sesama. Karena itu, perbedaan iman tidak perlu menjadi alasan permusuhan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal, saling menghargai, dan bersama-sama membangun kehidupan yang damai, adil, dan penuh kebaikan di tengah masyarakat.

    Di tengah dunia yang sering dipenuhi prasangka dan jarak antar umat beragama, perjumpaan sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa dialog dapat dimulai dari kesediaan untuk hadir, mendengar, dan saling menghormati. Semoga pengalaman ini menjadi benih persaudaraan yang terus bertumbuh di tengah keberagaman bangsa Indonesia.” []brh